Terimakasih Mumumuku :*
Jum’at, 11 Juli 2014
Sebuah pertemanan yang cukup berbeda bagiku.
Diantara banyaknya orang yang hanya menjadikanku persinggahan, kamu sudah
mencuri beberapa butir perhatianku. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan dan
kuharapkan sebelumnya. Mungkin ini sudah menjadi scenario yang telah disiapkan
oleh Tuhan. Ya, semoga saja.
Kamu mulai mengisi ruang dan setiap sudut-sudut
kosong dihatiku. Disetiap pertemuan kita yang seperti dan mungkin terlihat
berbeda dari teman atau sahabat seperti biasanya. Aku sangat berterimakasih
untuk organisasi yang telah mendekatkan kita berdua sehingga kita bisa sedekat
dan sehangat ini. Jauh sebelum itu, dimataku, kamu adalah sosok asing yang
membuatku terkagum-kagum dengan bakat yang kau miliki itu. Dimataku, kamu
terlihat sempurna.
Kita menjalani hari seperti biasa. Disetiap kegiatan
kita selalu bertemu. Disetiap ada event, atau pun hanya sekedar jalan-jalan,
kamu bersedia untuk menyisakan temapt duduk kosong dimotormu itu. Dengan beat
warna putih, helm hitam, dan kemeja kotak-kotak yang merupakan cirri khasmu
serta menjadi daya pikatku terhadapmu. Waktu itu kita hanya teman dan Cuma
teman sekolah saja, tidak lebih.
Seiring berjlannya waktu, sudah satu tahun kita
berada dalam satu organisasi yang sama. Aku tidak akget ketika mendengar kamu
sedang dekat dengan kakak kelas yang kamu cintai itu. Yang juga merupakan kakak
asuhku di organisasi yang kita ikuti bersama. Kurasa itu dulu.
Sekarang kita saling mendekat, mengerti satu sama
lain. Semenjak kepergian dia dihatiku, kamu menjadi pemegang tahta dihati tanpa
kekuasaan ini. Kamu, iya kamu. Kamu sudah membuatku nyaman berada didekatmu.
Aku suka tingkah lakumu, tingkah konyolmu, dan semua yang ada pada dirimu. Aku
sadar, aku tidak boleh menaruh harapan tinggi padamu. Iya, aku tahu itu.
Teringat disaat kita berdua saling berdekatan, dan
mungkin teramat sangat dekat (bagiku). Hari Minggu tanggal enam Juli
duaribuempatbelas. Disaat yang lain asyik mengobrol, aku sengaja mendekat dan
berada disampingmu. Bersandar dipundakmu, merasakan aroma segar tubuhmu,
mendengar desah suaramu, tidur di pangkuanmu, terlebih disaat kamu memegang
tanganku. Semua itu cukup menyamankan seorang wanita yang sedang kesepian. Itu
aku. Serta panggilan sayangmu terhadapku yang mungkin kau anggap hanya lelucon
belaka, hanya permainan saja. Dalam ruangan itu aku dan kamu cukup (bisa
dibilang) mesra untuk seorang teman. Apakah kamu berpikir bahwa aku jatuh cinta
padamu? Haha.. Bukan! Sungguh! Tuan, tenang saja. Aku tidak mungkin jatuh cinta
padamu. Kamu hanya sandaran hati ini ketika sepi. Tapi, bolehkah aku melebihkan
ini? Jika boleh jujur, (mungkin) aku akan menyayangimu, (mungkin) aku akan
mengagumi. Ya, cukup. Hanya ketertarikan sesaat saja.
Tapi.. Disetiap perhatian yang kau berikan dan panggilan
(yang kusebut ‘sayang’) itu menurutmu apakah hanya bualan semata? Iya, itu kamu, bukan aku. Disetiap pesan
singkat yang kamu melayang diponselku, aku selalu berharap bahwa orang itu
adalah kamu. Disetiap (yang sering kusebut) perhatianmu padaku cukup membuatku
berteriak didalam hati.
Aku tidak dapat berkata banyak. Bahkan disaat aku
kehabisan inspirasi seperti ini, kamu sudah membangkitkanku dari keterpurukan
yang selama ini mendarah daging bersamaku. Kamu mulai membangun kepercayaan
dalam diri ini. Membangun semangat dan asa yang berkobar. Bahkan diantara bola
mataku yang sudah ingin mengatup ini aku terperanjat untuk menulis sebuah
cerita yang tidak sempurna ini.
Tuan, tenang saja. Aku tidak akan dan tidak mungkin
jatuh cinta padamu. Begitu sebaliknya. Apalagi kamu yang termata sangat tidak
mungkin jatuh cinta pada manusia seperti aku ini. Ini hanyalah ketertarikan
sesaat saja. Kita hanya teman dan Cuma sekedar teman sekolah satu organisasi.
Iya kan? Cukup bisa membuatku nyaman dan bisa melupakan masa lalu yang selama
ini mengiktaku erat-erat. Sekali lagi,
ini hanya ketertariakan sesaat.
Terimakasih mumumuku, yang sudah membuatku nyaman
dan menghapus butir demi butir masa lalu itu. Terimakasih, kamuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar