Jumat, 25 Desember 2015



Kamu Berbeda Dari Yang Lain
Senin, 16 Juni 2014
Untuk seseorang yang selalu melukis senyuman di wajahku

Hampir satu tahun kita bersama, tapi aku masih belum bisa menterjemahkan perasaan apa yang kupendam saat ini. Kamu berbeda dari yang lain, yang belum pernah meneteskan airmataku sepercik pun, yang selalu melukis senyuman diwajahku, yang selalu menemaniku disetiap pijakan langkah kakiku,  dan aku berharap aku tidak salah memilih kamu sebagai pundak untukku bersandar dan sebagai tubuh yang dapat kupeluk saat aku merasa kesepian. Tapi mengapa tetap saja hatiku menentang untuk semua itu. Kamu terlalu cuek sehingga aku lebih memilih menyerah untuk memperjuangkan dan menunggumu.

Tuan, aku tepat berada didepan matamu. Tapi mengapa kamu tidak bisa merasakan getaran hebat yang terjadi didalam hatiku? Apakah kamu memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Setelah apa yang kita lakukan selama ini? Kita berada disatu kelas, kita berada diorganisasi yang sama, dan kita selalu bersama. Kamu. Ya, cuma kamu yang selalu membuatku tertawa dengan tingkah konyolmu itu. Menjahiliku dengan tingkah lucumu, dengan bisikan lembut, dan dengan pesan singkat yang selalu membuatku tersenyum diam-diam. Taukah kamu, disaat kamu dulu yang melayangkan pesan singkat keponselku, cukup membuatku lompat kegirangan. Seorang kamu mengirimkan pesan singkat terlebih dahulu sebelum aku? 

Aku sendiri tidak dapat menyangkal. Sifat cuekmu itu cukup membuatku tergila-gila padamu. Ya, aku suka dengan orang cuek seperti kamu. Diantara dia, dia, dan kamu, kamulah yang masih kuselipkan dalam setiap kenyataanku, bukan mimpiku. Dulu dan sampai sekarang saat kumpul untuk organisasi yang kita ikuti bersama, kamu pun memulai dengan menjahiliku dengan berbagai akal dan jurus yang selalu membuatku semakin dekat denganmu. Terlebih disaat kamu menghampiri ke tempat dudukku dan kita berada dalam satu meja. Terkadang bahu dan kaki kita bersentuhan yang semakin membuatku merasa nyaman berada didekatmu. Sungguh! Aku merasakan kenyamanan yang teramat sangat luar biasa saat berada didekatmu. Aku tidak ingin jauh darimu, aku ingin kamu selalu berada disampingku. Mungkin bagimu aku terlihat biasa saja –diluar, tapi, didalam aku sangat ingin bersandar dipundakmu dan memelukmu erat-erat sambil berbisik bahwa aku menyayangi dan merasa nyaman berada didekatmu.

Disetiap percakapan kita melalui ponsel, aku selalu mencoba mengungkapkan perasaanku lewat perhatian dan kecupan kecil berbentuk tulisan. Dan aku selalu berharap bahwa kamu juga akan membalasnya dengan kata sayang dan kecupan mesra meski berbentuk tulisan. Tapi semua itu hanya sebuah delusi. 

Tidak banyak kata yang dapat kuungkapkan untuk mewakili perasaanku ini. Aku selalu merindukanmu terlebih disaat kamu tidak ada disampingku. Rindu ini membunuhku secara perlahan, terkadang juga diiringi dengan kecemburuan dalam hati ketika aku melihat kamu dengan yang lain. Aku merasa sakit didalam, aku pendam. Tak apa, kamu lebih banyak mengukir senyuman diwajahku dibanding meneteskan air mataku setetes pun, atau mungkin malah tidak pernah sama sekali. Setiap kita bertemu, setiap kita berdekatan, aku mencoba mengungkapkan lewat tatapan mata. Wajah lugumu, hitam manis, desah suaramu, dan tingkah lucumu yang semakin membuatku merasa nyaman dan sangat dekat denganmu.

Aku ingin kamu segera sadar, aku ingin kamu mengerti, aku ingin kamu peka. Mengapa disaat dia  berada disampingku kamu malah berada disampingnya, tidak melindungiku. Bahkan disaat tangannya merangkul pundakku kamu hanya terdiam. Aku ingin kamu, bukan dia! Aku ingin kamu yang menggenggam tanganku, bukan dia! Aku bisa merasakan dari tatapan  mata dan semua (yang sering kusebut) perhatian lewat pesan singkatmu, bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Bolehkah jika kusebut perasaan ini sebagai “cinta”? Atau perasaan ini hanya ketertarikan sesaat? 

Andai aku dapat membaca pikiranmu, pasti aku akan memutuskan untuk lanjut mencintaimu atau berhenti memperjuangkanmu. Aku menyayangimu, Maul :*

Dari seseorang yang selalu merasa nyaman berada didekatmu
Aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar