Tanpamu
Sabtu, 28 Juni 2014
Dikeheningan malam ini, sunyi, sepi, aku sendiri,
tak ada satu pun bintang yang menemani, mungkin hanya masa lalu yang terus
mengejarku sampai sekarang. Dimalam ini aku masih memikirkan hal yang sama,
masih merindukan orang yang sama, dan dengan perasaan yang tak pernah
berkurang. Belum ada orang selain kamu yang bisa menggantikan posisimu
dihatiku, dimimpiku, dan disetiap jentikan jemari yang kubuat ini. Belum ada.
Cukup kamu saja yang menyiksaku seperti ini,
perasaan yang membunuhku secara perlahan yang masih membuatku tergantung
seperti ini. Dengan langkah gontai, dengan pijakan langkah kaki tak berarti,
dan dengan berbagai masalah yang kuhadapi saat ini. Aku sangat ingin berteriak
dengan lantang dan keras tapi tidak ada yang mendengar teriakanku.
Aku masih hidup, hembusan nafasku masih menghebus
lembut, detak jantungku masih bekerja dengan normal, denyut nadiku masih
mengalun lembut, dan darahku masih mengalir dengan lancar, tapi mengapa masih
ada yang kurang dengan kehidupanku sekarang ini? Apakah aku butuh teman?
Temanku banyak diluar sana, bahkan dua organisasi pun aku sudah memiliki lebih
dari seribu teman. Tapi mengapa aku sangat merasa kesepian seperti ini? Apakah
aku butuh kasih sayang? Kasih sayang? Aku tidak perlu dikasihani. Aku sudah
biasa seperti ini. Bukankah aku terbiasa dikesendirian?
Aku sudah jenuh. Aku sudah putus asa. Sudah tidak
ada yang menyemangatiku. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku ingin mati saja.
Lagipula pasti tidak ada yang peduli denganku. Iya kan? Apalagi kamu. Sungguh!
Aku ingin pergi darimu sejauh mungkin. Perasaan ini mengekangku, mengikatku,
menggantungku, membunuh sel-sel syaraf otakku sampai aku hilang kesadaran
bahkan membuatku terkapar melawan siksaan rindu ini yang datang bertubi-tubi.
Setiap hari aku berjuang dan berusaha untuk
melupakanmu. Melupakanmu? Bagaimana bisa? Kamu saja masih menghinggap di
sudut-sudut luas otakku dan masih saja kamu masuk ke dalam mimpiku. Bukannya meringankan
beban tapi malah membuatku semakin terbebani oleh kehadiran bayanganmu yang
selalu mengejarku setiap waktu. Padahal kemarin sedikit demi sedikit kamu sudah
hampir musnah dalam ingatanku, tapi mengapa tiba-tiba kamu terjun kedalam bunga
tidurku? Apa salahku? Sehingga kamu sekeji itu masih memaksaku untuk
mengingatmu lagi.
Aku disini sendirian. Kalau boleh jujur, aku masih
menantimu dan mungkin masih mengharapkanmu. Ah.. Bodoh! Tolol! Kenapa aku masih
mengaharapkanmu? Atau bahkan aku masih memperjuangkanmu. Ya, dengan origamu
burung-burung kertas itu, usahaku mengkhianatiku. Aku sangat benci padamu! Aku
remas-remas burung-burung kertas itu dan meremas menggenggam penuh kebencian
fotomu itu. Ternyata itu juga tidak cukup membayar rasa sakit yang aku derita
selama ini.
Terlebih disaat aku melihat dua orang bergandengan
dan jalan bersama dengan penuh kemesraan di Dandangan. Bukankah itu menyakitkan
bagiku? Aku selalu saja berdelusi. Seandainya aku dan kamu berada disini,
menghabiskan waktu dibulan Juni ini. Apalagi menjelang bulan puasa seperti ini.
Butuh waktu satu tahun lagi untuk merasakn seperti ini bersama orang tersayang.
Hari-hari kujalani sendiri, tidak ada yang menemani.
Terkadang teman datang silih berganti menghiburku. Ada juga yang mencuri perhatianku.
Ada yang hanya menjadikanku persimpangan saja, ada juga yang hanya menjadikanku
teman smsan kala aku sedang kesepian. Namun tak lebih kamu rumah bagiku,
tempatku untuk kembali padamu. Aku sudah pernah bilang kan, belum ada yang bisa
menggantikanmu.
Aku sendirian, berteman sepi. Menggantung di tali
yang tak berujung dan tak bertepi. Aku butuh kasih sayang dari seseorang yang
teramat sangat kusayangi, kamu. Aku rindu pelukanmu, aku rindu pesan singkatmu,
aku rindu tatapan matamu, aku rindu kecupanmu, aku rindu desah suaramu, aku
rindu belaianmu, aku rindu kasih sayangmu, aku rindu alunan gitar dengan
petikan jemarimu, aku rindu panggilan sayangmu, aku rindu semua yang ada pada
dirimu. Disisni aku sendirian melawan gelombang rindu yang datang terus menerus
tanpa henti. Setiap hari hanya berdelusi yang dapat kulakukan, berharap aku dan
kamu masih menjadi “kita” sambil merajut cinta dengan rasa. Setiap hari aku
berkutat dengan berbagai macam pikiran tentangmu dan berbagai kata dan kalimat
yang melayang-layang dipikiranku. Sekali lagi, aku hanya sendirian. Dan..
Kesendirian ini bernama.. Tanpamu.
Dan.. Diantara mata yang terlelap, diantara masalah
yang mengelilingiku saat ini, diantara orang yang keluar masuk mencuri
perhatianku, diantara goresan tinta dan jentikan jemari yang kubuat ini,
diantara bintang yang menyelimuti dirinya dengan awan hitam, diantara dada
kiriku yang tiba-tiba sakit, diantara alunan music yang kuputar mala mini,
diantara keheningan dan kesunyian malam ini, aku masih merindukanmu.
Apakah kamu juga memimpikanku? Iya? Masa?
Apakah kamu juga memikirkanku? Iya? Bohong!
Apakah kamu juga merindukanku? Tidak? Makasih.
Dari seseorang yang
sampai saat ini (masih) merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar