Mr.O
Aku masih duduk memandangmu dari kejauhan. Kamu yang
selalu hadir dalam ingatanku. Kamu yang selalu menghiasi disela-sela rutinitask
sehari-hari. Entah hal apa yang bisa membuatku seperti orang gila seperti ini.
Perasaan yang datang tak tahu dari mana asalnya. Aku selalu berharap bisa
berada disampingmu, Tuan. Apakah perasaan ini boleh kusebut “cinta”?? Ah..
masih terlalu dangkal untuk menyebut perasaan ini sebagai rasa (yang katanya)
“cinta”.
Tak ingatkah kau saat pertama kali kita berdialog.
Disaat yang lain asyik bergembira menyambut kemenangan lomba pada hari itu??
Kamu duduk tepat berada disampingku, hanya berjarak satu meter. Mungkin itu
jarak terdekat yang pernah kita rasakan. Aku memulai percakapan yang tidak
pernah kuharapkan sebelumnya.
O : (Menunduk sambil tersenyum)
S : “Kenapa, kak?”
O : “Gak kenapa-kenapa og. Malah seneng.”
(Mendongakkan kepala dan berdiri)
S : “Semangat, ya, kak..” (Tersenyum)
O : “Iya.” (Membalas senyum sambil berjalan
dan berlalu didepan mataku)
Sungguh, sebuah percakapan yang sangat bersejarah
bagiku. Sesuatuyang masih kuingat (sampai sekarang). Disetiap pertemuan singkat
yang terjadi, aku selalu mencoba untuk mengungkapkan lewat tatapan mata, sapaan
hangat, dan senyum kecil dari raut wajahku. Terkadang, kamu pun membalas senyum
itu dan membalas sapaanku. Setiap kamu berlalu didepan mataku, entah mengapa
langkah kaki ini rasanya ingin berhenti untuk mendekapmu erat-erat. Menggenggam
tanganmu dan merasakan pelukan hangat tubuhmu. Haha.. Tidak mungkin!! Apalagi
saat ku dengar kamu sedang dekat dengan teman seperjuanganku. Taukah kamu,
kalau kau sudah menggoreskan luka dihatiku. Terlebih disaat kamu berjalan
berduaan dengannya pada malam hari di pameran itu. Hatiku tercabik-cabik tak
membekas.
Lewat kata yang kita layangkan dari pesan singkat,
cukup membuatku tersenyum sendiri dalam diam.
Dirimu yang pernah menjadi peran utama dalam setiap goresan tinta di
kertasku dan menjadi bagian cerita indah didalamnya, Kamu telah memikat hatiku
dengan segudang harapan yang tak kumiliki sebelumnya. Tapia pa daya,
hatimu hanya untuknya. Dengan (sangat)
terpaksa, aku berhenti menciantaimu. Mungkin aku memang ditakdirkan hanya untuk
mengagumi (saja).
Kamu yang selalu menarik perhatianku disaat yang
lain datang mengahmpiri hanya untuk menyakiti, singgah disana sini tanpa
permisi. Aku masih ingat betul saat dimana kupandang wajah manismu itu. Wajah
lugu berwajah oriental, banyak yang bilang wajahmu mirip dengan orang Cina, aku
pun begitu. Dengan mata sipitmu, tas jinjing berwarna hitam, dan jaket berwarna
hitam bergariskan biru itu menambah cirri khasmu, Tuan.
Memandangmu dengan samar dari kejauhan. Dirimu yang
sedang mengenakan headset ditelingamu itu. Bersandar di tiang tembok seraya
bermain handphone yang berada digenggamanmu itu.
Teringat disaat aku pingsan waktu kegiatan. Saat
masih mendengar riuh suasana orang yang menggotongku ke mushola. Saat itu aku
tak tahu siapa yang menggotongku. Terdengar desah suaramu saat kamu menyebutkan
namaku. Ya, itu memang kamu, Mr.O. Kurasakan detak jantungmu, aroma harum segar
tubuhmu, dan tepat aku berada dipelukanmu. Meski tidak sempat menjadi milikmu,
setidaknya aku pernah merasakan pelukan hangat tubuhmu itu.
Apakah kamu memang tidak mengerti? Atau hanya
pura-pura tidak mengerti? Lali selama ini disetiap pagi, disetiap kita tak
sengaja berpapasan, aku selalu melayangkan tatapan mataku ini padamu. Tatapan
mata penuh arti yang tak pernah kau ketahui dan kau mengerti. Tak ingat kah kau
di kala senja hari itu, saat aku duduk disamping adikmu. Kamu menyanyikan
sebuah lagu lucu. Petikan gitarmu, jemari yang beradu dengan senar, dan desah
suaramu itu masih kudengar (sampai sekarang). Terimakasih atas semua kenangan
yang pernah kamu berikan padaku. Mengagumimu saja itu sudah cukup bagiku.
Dari, Pemuja Rahasiamu
Yang selalu memandangmu
dari kejauhan
Aku.
Senin, 9 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar