Minggu, 16 Agustus 2015



Tentang Kamu (Lagi)
Senin, 09 Juni 2014

Aku tidak pernah berharap bisa bertemu denganmu hari ini. Tapi takdir berkata lain. Aku tidak sengaja melihatmu dari kejauhan. Dengan  samar kubuka mataku lebar-lebar. Ah… Aku terlalu bodoh untuk hal itu. Aku sudah berjanji tidak akan melihatmu lagi, tidak akan menatap kearahmu lagi, dan tidak akan berharap lagi denganmu. Mataku minus, tidak bisa melihatmu. Ingin kututup mataku dan kutulikan telingaku saat berada didekatmu. Berada didekatmu? Bodoh! Itu hanya sebuah delusi.

Melihatmu samar dari kejauhan, cepat-cepat aku meraih kacamataku dan segera menoleh kearahmu. Kuteliti, kinikmati, dan kurasakan dalam hati. Sungguh melihat seseorang dalam kebahagiaan yang begitu menyenangkan. Aku berusaha untuk memalingkan pandangan. Tapi tetap saja bola mataku hanya mengarah padamu. Kulihat sekali lagi, kamu menghilang dari pandangan. Datang tiba-tiba dan pergi tanpa jejak yang membekas. Ketika aku menoleh kebelakang, ternyata… kamu berjalan tepat dibelakangku. Sungguh! Keajaiban dunia.. Seketika aku pun memalingkan wajahku pada buku yang berada dipangkuanku.

Berpura-pura tidak melihatmu dan mengenalmu. Membungkam mulut tak ingin tahu bicara sepatah  kata pun. Semua itu tak kau hiraukan. Aku disini yang menatapmu secara diam-diam, tak pernah kau anggap sepercik pun.

Sekejap kamu berada didekatku, sekejap itu pula kamu menghilang dari pandanganku. Ya, kamu kabur dari sorot mataku entah kemana. Aku pun berusaha utuka tidak tahu apa-apa tentang keberadaan dirimu disekitar  teman-temanku. Lebih baik aku menatap buku yang berada di pangkuanku. Sesekali aku menoleh kearahmu (lagi). Kamu kembali ke tempatmu berasal tadi. (Dan lagi) tiba-tiba kamu mengahmpiri temanmu yang berada disamping ruanganku. Kamu tepat berada didepanku, terhalang temanku. 

Aku berusaha untuk berpura-pura untuk tidak mengetahui keberadaanmu dan menganggap kamu tidak ada. Semoga saja kamu tidak merasakannya. Merasakan apa? Merasakan kalau aku berada didekatnya? Hal bodoh! Menganggapku hidup saja dia tidak pernah. Apalagi menghargaiku. Aku masih menunduk terpaku dalam bukuku yang sebenarnya tidak ku baca. Menunduk dengan bola mata melirik kearahmu. Sangat jelas sekali kamu berada didepanku. 

Sebenarnya aku sudah (BOSAN) untuk menulis tentangmu. Tapi mau bagaimana lagi jika kamu yang selalu dan (masih) hadir di bunga tidurku maupun dikenyataanku. Setelah sekitar empat bulan kita tidak bersama, aku merasa baik-baik saja, diluar. Didalam hatiku, kau idak pernah tahu itu.  Ku dengar kamu telah menenmukan penggantiku, aku cukup bahagia mendengar kalian sudah menyatu. Sebagian besar lagi perasaanku sangat tersakiti oleh hal yang sangat tidak ingin terjadi itu. Terlebih saat semua itu masuk kedalam mimpiku, pesan singkat dan status fesbuk yang sangat aneh bagiku.

Kalau boleh jujur, aku selalu berharap bahwa hubunganmu saat ini akan segera berakhir. Segera berakhir dan kembalilah padaku.  Ah.. Mengapa aku bisa sebodoh dan setolol ini karenamu. Padahal teman-temanku bilang kamu sangat tidak pantas untukku, sangat tidak pantas untuk diperjuangkan. Sebenarnya aku sadar bahwa aku  memang terlalu memperjuangkan seseorang yang tidak pernah mengahrgai perjuangnkau dan menganggap keberadaanku. 

Dimalam sunyi seperti in, aku terbiasa untuk sendiri. Apalagi saat memnadang langit malam yang bertahtakan bintangg-bintang. Rasanya ingin meraih bintang terbesar itu dan melemparkannya kearahmu. Sudahlah, aku tidak ingin bergulat dengan kata-kata lagi tentangmu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku begitu saja. Aku memang sangat munafik. Dan (dengan sangat terpaksa) aku mengakui bahwa aku (masih) menyayangi dan (mungkin) masih mencintaimu.

Aku sudah lelah dengan semua ini
Biarkan aku dekat dengan langit saja…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar