Tentang
Kamu (Lagi)
Senin, 09 Juni 2014
Aku tidak pernah berharap bisa bertemu denganmu hari
ini. Tapi takdir berkata lain. Aku tidak sengaja melihatmu dari kejauhan.
Dengan samar kubuka mataku lebar-lebar.
Ah… Aku terlalu bodoh untuk hal itu. Aku sudah berjanji tidak akan melihatmu
lagi, tidak akan menatap kearahmu lagi, dan tidak akan berharap lagi denganmu.
Mataku minus, tidak bisa melihatmu. Ingin kututup mataku dan kutulikan
telingaku saat berada didekatmu. Berada didekatmu? Bodoh! Itu hanya sebuah delusi.
Melihatmu samar dari kejauhan, cepat-cepat aku
meraih kacamataku dan segera menoleh kearahmu. Kuteliti, kinikmati, dan
kurasakan dalam hati. Sungguh melihat seseorang dalam kebahagiaan yang begitu
menyenangkan. Aku berusaha untuk memalingkan pandangan. Tapi tetap saja bola
mataku hanya mengarah padamu. Kulihat sekali lagi, kamu menghilang dari
pandangan. Datang tiba-tiba dan pergi tanpa jejak yang membekas. Ketika aku
menoleh kebelakang, ternyata… kamu berjalan tepat dibelakangku. Sungguh!
Keajaiban dunia.. Seketika aku pun memalingkan wajahku pada buku yang berada
dipangkuanku.
Berpura-pura tidak melihatmu dan mengenalmu. Membungkam
mulut tak ingin tahu bicara sepatah kata
pun. Semua itu tak kau hiraukan. Aku disini yang menatapmu secara diam-diam,
tak pernah kau anggap sepercik pun.
Sekejap kamu berada didekatku, sekejap itu pula kamu
menghilang dari pandanganku. Ya, kamu kabur dari sorot mataku entah kemana. Aku
pun berusaha utuka tidak tahu apa-apa tentang keberadaan dirimu disekitar teman-temanku. Lebih baik aku menatap buku
yang berada di pangkuanku. Sesekali aku menoleh kearahmu (lagi). Kamu kembali
ke tempatmu berasal tadi. (Dan lagi) tiba-tiba kamu mengahmpiri temanmu yang
berada disamping ruanganku. Kamu tepat berada didepanku, terhalang temanku.
Aku berusaha untuk berpura-pura untuk tidak
mengetahui keberadaanmu dan menganggap kamu tidak ada. Semoga saja kamu tidak
merasakannya. Merasakan apa? Merasakan kalau aku berada didekatnya? Hal bodoh!
Menganggapku hidup saja dia tidak pernah. Apalagi menghargaiku. Aku masih
menunduk terpaku dalam bukuku yang sebenarnya tidak ku baca. Menunduk dengan
bola mata melirik kearahmu. Sangat jelas sekali kamu berada didepanku.
Sebenarnya aku sudah (BOSAN) untuk menulis
tentangmu. Tapi mau bagaimana lagi jika kamu yang selalu dan (masih) hadir di
bunga tidurku maupun dikenyataanku. Setelah sekitar empat bulan kita tidak
bersama, aku merasa baik-baik saja, diluar. Didalam hatiku, kau idak pernah
tahu itu. Ku dengar kamu telah
menenmukan penggantiku, aku cukup bahagia mendengar kalian sudah menyatu.
Sebagian besar lagi perasaanku sangat tersakiti oleh hal yang sangat tidak
ingin terjadi itu. Terlebih saat semua itu masuk kedalam mimpiku, pesan singkat
dan status fesbuk yang sangat aneh bagiku.
Kalau boleh jujur, aku selalu berharap bahwa
hubunganmu saat ini akan segera berakhir. Segera berakhir dan kembalilah
padaku. Ah.. Mengapa aku bisa sebodoh
dan setolol ini karenamu. Padahal teman-temanku bilang kamu sangat tidak pantas
untukku, sangat tidak pantas untuk diperjuangkan. Sebenarnya aku sadar bahwa
aku memang terlalu memperjuangkan
seseorang yang tidak pernah mengahrgai perjuangnkau dan menganggap
keberadaanku.
Dimalam sunyi seperti in, aku terbiasa untuk
sendiri. Apalagi saat memnadang langit malam yang bertahtakan bintangg-bintang.
Rasanya ingin meraih bintang terbesar itu dan melemparkannya kearahmu.
Sudahlah, aku tidak ingin bergulat dengan kata-kata lagi tentangmu. Tapi aku
tidak bisa membohongi perasaanku begitu saja. Aku memang sangat munafik. Dan
(dengan sangat terpaksa) aku mengakui bahwa aku (masih) menyayangi dan
(mungkin) masih mencintaimu.
Aku sudah lelah dengan
semua ini
Biarkan aku dekat
dengan langit saja…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar