Dialog Pertama
Sabtu, 21 Desember 2013 J
Udara dingin malam mulai menusuk tulang. Rintikan
air hujan datang silih berganti membasahi jamper abu-abu yang ku kenakan. Riuh
suasana ramai memeriahkan malam itu. Tanah berlumpur mengotori kakiku,
memijakkan langkah kaki penuh kenangan. Masih kuingat betul malam itu. Malam
dimana kita memulai percakapan untuk yang pertama kalinya. Tempat dimana
kenangan kita ukir. Disebuah tempat dataran tinggi di Kota yang kita tempati
saat ini. Tempat dimana angkatan kita melakukan event untuk pertama kalinya
bagiku.
Kala itu seusai azan maghrib berkumandang, aku dan
teman-temanku bergegas mengambil air wudhu yang berada dibawah tepatnya didepan
basecamp putra. Sedangkan basecamp putri berada diatas dan harus melewati jalan
berlumpur yang baru saja diguyur hujan seharian ini, bahkan tetesannya pun
masih terasa sampai sekarang. Dengan mengenakan jamper abu-abuku ini kuberjalan
melewati jalan setapak menjejakkan langkah kaki. Teman-temanku mengenakan jas
hujan yang dipakai bersama-sama sedangkan aku berada dibelakang mereka dengan
langkah sangat hati-hati. Sesampainya ditempat wudhu, mereka pun berbaris
berjajar rapi untuk mengambil air wudhu secra bergiliran dan aku mengalah
berada paling belakang sendirian.
Dengan mendekapkan tangan ke tubuhku sambil sesekali
memperhatikan sekelilingku. Saat menatap ke sebelah kanan lalu memutar kedua
bola mataku ke sebelah kiri, aku pun terperanjat kaget. Kamu, berada tepat
disamping kiriku. Iya, benar itu kamu dan aku tidak mungkin salah lihat. Kamu
berdiri sendirian disampingku yang juga mendekapkan tangan ke tubuhmu itu.
Dengan senyuman polos kamu pun memulai dialog itu yang sebelumnya tidak pernah
kubayangkan dan kuharapkan sebelumnya.
Dialog yang untuk pertama kalinya kita lakukan di tempat bersejarah itu. “Itu lho pakai jas hujan, nanti kamu sakit.” Satu kalimat pertama yang menunjukkan perhatianmu padaku yang cukup membuat jantungku berdegup kencang. Dengan malu aku pun menjawab, “Nggak og ini udah pakai jamper” Satu baris kalimat yang begitu saja kulontarkan dari mulutku ini. Aku pun melanjutkan dialogku. “Yang ada kamu tuh yang sakit. Tangan kamu aja gabisa buat push up gitu og.” Ya, perhatian yang kuberikan padanya itu mungkin cukup membuatnya lega. Kamu pun membalas dialogku sambil tertawa kecil, “Hhm, nggak og, udah sembuh.” Sungguh sebuah percakapan untuk yang pertama kalinya terjadi. Ada kala disaat saling diam dan tak berkutik. Suara percikan air terjun malam itu menambah ramai pembicaraan kita berdua. Aku pun meneruskan dialognya, “Kamu udah sholat?” Kamu pun hanya menggelengkan kepala.
Dialog yang untuk pertama kalinya kita lakukan di tempat bersejarah itu. “Itu lho pakai jas hujan, nanti kamu sakit.” Satu kalimat pertama yang menunjukkan perhatianmu padaku yang cukup membuat jantungku berdegup kencang. Dengan malu aku pun menjawab, “Nggak og ini udah pakai jamper” Satu baris kalimat yang begitu saja kulontarkan dari mulutku ini. Aku pun melanjutkan dialogku. “Yang ada kamu tuh yang sakit. Tangan kamu aja gabisa buat push up gitu og.” Ya, perhatian yang kuberikan padanya itu mungkin cukup membuatnya lega. Kamu pun membalas dialogku sambil tertawa kecil, “Hhm, nggak og, udah sembuh.” Sungguh sebuah percakapan untuk yang pertama kalinya terjadi. Ada kala disaat saling diam dan tak berkutik. Suara percikan air terjun malam itu menambah ramai pembicaraan kita berdua. Aku pun meneruskan dialognya, “Kamu udah sholat?” Kamu pun hanya menggelengkan kepala.
Berakhirlah sudah dialog pertama yang kita lakukan. Karena sudah banyak
teman-temanmu dan kakak alumni lain yang lalu lalalng melewati kita. Aku tak
ingin disangka-sangka, dalam kegiatan seperti ini masih sempat untuk berduaan.
Sayang, terimakasih atas dialog pertama yang kau ucapkan itu. Jamper abu-abu
ini menjadi saksi peristiwa pertama kali dalam sejarah itu terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar