Pertemuan Singkat
Selasa, 20 Mei 2014
Pukul 07.00
Pagi ini aku melihatmu lagi, melihat wajahmu yang
memang selalu kubayangkan setiap waktu bahkan setiap detik. Saat itu aku sedang
berada di luar sekolah bersama teman-temanku berniat untuk membeli bolpoint,
tapi aku tidak. Sambil sesekali melihat sekelilingku, aku berpaling memandang
disetiap murid yang akan memasuki gerbang. Tidak sengaja aku melihatmu. Ya,
benar itu kamu. Dengan tas jinjingmu berwarna hitam itu, kamu pun berjalan
menuju gerbang sekolah. Dengan tatapan melirik sesekali menoleh kearahmu, aku
pun menikmati pemandangan indah di pagi ini. Apakah itu memang kenyataan atau
bukan, tapi aku melihat dengan kepala mataku sendiri bahwa kamu menoleh
kearahku. Haha, sangat tidak mungkin.
Setelah kamu berjalan menuju kea rah gerbang, aku
pun milirik sedikit siapa yang mengantarmu di pagi yang cerah itu. Ternyata
ayahmu dan aku melihat seorang anak kecil berada di depan. Mungkin itu adikmu
yang pernah kau ceritakan padaku, dulu. Setelah melihat pemandangan indah di
pagi itu, aku lebih memilih diam dan tidak berniat untuk menceritakannya pada
siapapun. Teman-temanku sudah bosan mendengar cerita tentangmu dari bibirku.
Tapi salahkah aku jika menceritakan kebahagiaan yang kurasakan saat melihat
wajahmu, melihat senyummu dari kejauhan??
Aku masih ingat dimana tempat kita mengukir kenangan
dengan sebuah pertemuan singkat. Di depan pintu koperasi, di persimpangan jalan
tepatnya dipertigaan lorong sekolah dekat ruang guru, di kamar mandi pria, di
kantin, didepan ruang kelasmu, dan di tempat- tempat lain yang ersejarah. Aku
masih ingat dan aku tidak bisa melupakannya, Tuan. Apalagi pelukis kenangan
itu. Ku hitung setiap detik saat aku bertemu denganmu. Bahkan sekedipan mata
pun aku sudah bersyukur kepada Tuhan masih dieri kesempatan untuk melihat wajah
manismu itu.
Teringat disaat kemah kelulusan. Sore itu sedang
istirahat dan waktu bersantai. Terdengar suara petikan gitar dari arah
secretariat kakak dewan ambalan. Suara lembut nan merdu membawa bingkisan kalbu
yang ditemani langit mentari senja kala itu. Disaat ku dengar lagu yang sudah
tidak asing kudengar. Lagu yang berjudul Pemujamu yang pernah kita ketahui
bersama dan menjadi lagu kebangsaanku. Ku perhatikan suara yang menyanyikan
lagu ini, ku hayati dan ku cerna dalam hati. Sepertinya aku tidak asing dengan
desah suara ini. Mungkinkah suara ini milikmu? Mungkin. Untuk kedua kalinya ku dengar lagu kebangsaanku
juga dan mungkin juga lagu yang kamu sukai. Lagu itu berjudul Terlalu Manis,
dengan desah suara yang sama seperti tadi. Aku ikut larut dan tenggelam dalam
alunan gitar yang sangat menghanyutkan itu.
Disaat ku berjalan melewati secretariat, terlebih
saat temanku bilang bahwa aku sudah dinyanyikan lagu olehmu. Benarkah itu kamu?
Sebelumnya aku sudah mengira bahwa itu kamu. Entahlah.
Tuan, tepat pada tanggal ini dan sebulan lagi umur
kamu akan bertambah satu tahun. Ya, tepat sekali. JUM’AT, DUA PULUH JUNI DUA
RIBU EMPAT BELAS. Tepat tujuh belas tahun usiamu saat itu. Sudah lama aku
memikirkan hal ini untukmu. Aku akan berusaha, semoga mengesankan. Terimakasih
atas setiap pertemuan singkat yang kamu
berikan. Meski tak pernah kau sadari, meski kau tak menganggap aku ada, meski
kau tak pernah merasakan aku berada didekatmu.
Tuan, anda tidak perlu menghargai saya, cukup anggap
saja saya ada berada didekat anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar